Pelaku Penyuntikan Gas LPG di Badung, Bali Ditangkap

Badung, Bali, beritajatim.net – Pelaku pengoplosan atau penyuntikan gas LPG tabung 3 kg (subsidi) ke tabung LPG 12 kg (non subsidi) di Badung, Bali ditangkap Subdit IV Ditreskrimsus Polda Bali pada Minggu (16/6).

Baca juga :

Pelaku Penyuntikan Gas LPG di Badung, Bali Ditangkap

Pelaku bernama I wayan Rawan ditangkap pada saat mengoplos gas LPG pada pagi hari dilakukan di gudang belakang rumahnya di Banjar Pande, Desa Abiansemal, Badung, Bali.

Adapun barang bukti yang diamankan pihak kepolisian terdiri dari 174 tabung gas LPG 3 kg kosong, 107 tabung gas LPG 3 kg berisi, 7 tabung gas LPG 12 kg kosong, dan 40 tabung gas LPG 12 kg berisi.

Baca juga :

Korlantas Polri Luncurkan Teknologi Baru ETLE Face Recognition

Barang bukti lainnya yakni mobil Carry warna hitam, 15 pipa besi dengan panjang kurang lebih 15 cm, dan peralatan lain untuk mengoplos atau penyuntik tabung gas LPG.

Dari informasi yang didapat media, pelaku ditangkap berawal Polda Bali mendapatkan informasi dari masyarakat jika ada penyuntikan gas LPG yang dilakukan pelaku setiap pagi hari pukul 06.00 WITA.

Dari informasi masyarakat itu, anggota Subdit IV Ditreskrimsus Polda Bali bergerak dan benar saja pada pagi itu pelaku ditangkap sedang melakukan aksinya penyuntik gas LPG subsidi ke tabung LPG non subsidi.

Dengan penangkapan oleh Polda Bali, banyak komentar miring dialamatkan ke Polres Badung, bagaimana bisa kecolongan wilayah hukumnya ada praktek penyuntikan gas LPG yang melanggar hukum. Ada apa ini ?.

Perlu diketahui, Gas Liquefied Petroleum Gas atau dikenal gas LPG adalah gas hidrokarbon yang dicairkan dengan tekanan untuk memudahkan penyimpanan, pengangkutan, dan penanganannya.

Gas LPG tabung 3 kg merupakan LPG bersubsidi dan hanya diperuntukkan bagi rumah tangga dan usaha mikro, kelompok nelayan sasaran dan kelompok petani sasaran dengan harga ditetapkan oleh menteri.

Baca juga :

Menag: Indonesia Dapat Kuota 221.000 Jemaah Pada Operasional Haji 1446 H

Selain LPG bersubsidi tabung 3 kg, terdapat pula jenis LPG umum yaitu LPG yang merupakan bahan bakar yang pengguna atau penggunaannya, kemasannya, volume dan harganya tidak diberikan subsidi.

Pendistribusian LPG non subsidi seperti LPG tabung 12 kg adalah untuk pengguna skala kecil, pelanggan kecil, transportasi dan atau pengguna besar LPG.

Jadi, dapat disimpulkan gas LPG tabung 3 kg merupakan LPG bersubsidi yang sasaran dan harganya berbeda dengan harga LPG tabung 12 kg yang tidak bersubsidi.

Tindakan menyuntikkan (memindahkan) gas dari tabung LPG bersubsidi ke tabung gas LPG non subsidi dan menjualnya kembali tentu memberikan keuntungan bagi penjual.

Tindakan menyuntikkan gas LPG tabung 3 kg ke tabung 12 kg dan 50 kg merupakan tindakan menyalahgunakan niaga (penjualan) gas LPG bersubsidi sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.

Hal tersebut diatur di dalam Pasal 40 angka 9 Perppu Cipta Kerja yang mengubah Pasal 55 UU 22/2001 dengan jerat pidana penjara paling lama 6 tahun dan pidana denda paling banyak Rp.60 miliar.

Baca juga :

Purna Tugas Anggota Kodim 0829/Bangkalan, Inilah Pesan Dandim

Selain itu, penjual gas LPG suntikan juga melanggar ketentuan dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a dan c jo. Pasal 62 ayat (1) UU Perlindungan Konsumen.

Jerat pidana bagi pelaku adalah penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp.2 miliar. @red

http://beritajatim.net/wp-content/uploads/2024/05/IKLAN-ADV-IDUL-ADHA-1445-H-OKE-scaled.jpg
Penulis: @dieftEditor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *